Bisnis

Bisnis Untung Namun Tersendat Permasalahan Kas? Manajemen Arus Kas Jawabannya

visibility 3963

Bulan ini pengeluaran Anda banyak sekali, namun uang yang masuk justru sedikit. Usut punya usut, rupanya bukan karena sales yang rendah melainkan pelanggan Anda belum membayar utang. Seandainya Anda bisa memprediksi ini sebelumnya, tentu Anda bisa mengambil langkah-langkah pencegahan agar tidak jatuh dalam perangkap cash flow gap. 

Berita bagusnya, cara untuk memprediksi cash flow Anda memang sudah ada dan mudah untuk dilakukan yaitu dengan membuat proyeksi cash flow. Proyeksi cash flow adalah catatan berapa banyak cash yang masuk dan yang keluar dari usaha Anda dalam periode tertentu di masa depan. Di dalamnya ada perkiraan cash inflow Anda, perkiraan cash outflow Anda, serta selisih keduanya. Anda bisa melihat kapan usaha Anda memiliki kelebihan cash dan kapan mengalami kekurangannya. Selanjutnya, Anda mungkin bisa mulai memikirkan kemana harus menginvestasikan kelebihan cash tersebut atau dengan cara apa Anda bisa menutup kekurangan cash Anda. 

Jika Anda mengajukan pinjaman jangka pendek, proyeksi cash flow juga akan Anda butuhkan. Sebaiknya, Anda menyediakan proyeksi cash flow secara rolling (terus menerus) untuk jangka waktu 6 bulan hingga setahun ke depan. Jangka waktu proyeksi Anda tidak boleh terlalu panjang sehingga tidak relevan dengan kondisi saat ini, namun juga tidak boleh terlalu pendek sehingga jika menemukan informasi penting Anda masih punya waktu untuk bertindak.

Tidak sulit, kok, untuk membuat proyeksi cash flow. Agar lebih mudah, kenali dulu ketiga komponennya:

1. Proyeksi Cash Inflow

Cash inflow perusahaan Anda bisa berasal dari penjualan barang/jasa, pendapatan investasi, pinjaman jangka pendek, dan lain-lain. Komposisi yang paling besar umumnya adalah penjualan barang/jasa. Saat memproyeksikan sales,  Anda harus mempertimbangkan permintaan pasar, perubahan tren, serta kondisi ekonomi.

Jika perusahaan Anda hanya menerima pembayaran cash, maka membuat dan membaca proyeksi cash inflow tidak sulit dilakukan. Tapi, jika perusahaan Anda mengizinkan adanya utang piutang, maka interpretasinya menjadi sedikit lebih rumit.

Untuk memahami proyeksi cash flow Anda, ada 2 rasio yang harus Anda perhatikan, yaitu average collection period dan receivables turnover ratio.

Average collection period adalah berapa lama rata-rata waktu yang diperlukan perusahaan Anda untuk menerima cash sejak penjualan dilakukan. Semakin pendek semakin baik karena berarti pelanggan Anda tidak menunggak terlalu lama. Average collection period dihitung dengan membagi jumlah piutang Anda sekarang dengan rata-rata sales harian Anda. Kalikan dengan 365 untuk mengkonversinya ke dalam satuan hari.

Proyeksi Cash Flow

Receivables turnover ratio adalah rasio untuk membantu menghitung seberapa efektif perusahaan Anda dalam mengeluarkan kredit bagi pelanggan dan menagih kembali kredit itu. Makin tinggi rasionya, makin efisien perusahaan Anda dalam mengelola kredit. Anda juga bisa mengkonversi rasio ini dalam satuan hari dengan membagi angka 365 dengan rasio tersebut. 

Turnover Ratio

 

2. Proyeksi Cash Outflow

Anda mengeluarkan cash untuk berbagai keperluan, ada yang rutin, yang insidental, dan yang sifatnya investasi. Sama seperti cash inflow, jika transaksi Anda dilakukan hanya dalam cash, penghitungannya relatif mudah. Namun jika Anda membayar dengan berutang, maka ada rasio yang harus Anda pelajari untuk bisa menginterpretasikan proyeksi cash flow Anda, yaitu payables turnover ratio.

Payables Turnover Ratio adalah rumus untuk menghitung bagaimana kecepatan perusahaan Anda dalam membayar utang. Makin tinggi nilainya, makin sebentar waktu yang digunakan perusahaan Anda untuk membayar utang.

Payable-turnover-ratio

 

3. Cash Flow Bottom Line

Setelah proyeksi cash inflow dan cash outflow didapat, selisih antara cash inflow dengan cash outflow disebut dengan cash flow bottom line. Jika Anda membuat proyeksi cash flow untuk beberapa periode, maka cash flow bottom line dari periode pertama akan menjadi opening balance di periode kedua, siap ditambah dengan proyeksi cash inflow dan dikurangi dengan proyeksi cash outflow. Begitu juga seterusnya.

Jika cash flow bottom line Anda terlihat negatif pada periode tertentu, maka di situlah terdapat potensi cash flow gap. Anda dapat mengantisipasinya dengan beberapa opsi berikut:

Jika opsi terakhir yang Anda pilih, selanjutnya tentukan pinjaman seperti apa yang tepat bagi Anda. Idealnya, pinjaman tersebut bisa Anda dapatkan segera agar tidak mengganggu kegiatan operasional. Investree menawarkan produk pinjaman jangka pendek dengan proses yang cepat, praktis, dan mudah. Anda bisa mengajukan kredit secara online hanya dengan memberikan jaminan berupa invoice, sehingga mampu menghemat waktu, biaya, dan tenaga. Metode pengumpulan tersebut disebut dengan peer-to-peer lending atau P2P lending. Sst... Tertarik untuk mempelajarinya lebih lanjut? Kunjungi laman utama kami sekarang!

Share this Post