Keluarga

Hindari 8 Kesalahan Ini untuk Ajari Anak Kebiasaan Finansial yang Cerdas

visibility 157

Kita sebagai orang tua pasti selalu menjadi panutan bagi anak-anak kita. Baik secara sadar maupun tidak sadar, mereka akan mencontoh setiap perilaku yang kita lakukan sehari-hari. Namun yang namanya manusia pasti tidak ada yang sempurna. Sebagai manusia, pasti ada saja kesalahan yang kita lakukan, termasuk kesalahan yang mungkin sulit ditutupi dari perhatian anak-anak. Tidak ketinggalan juga kesalahan dalam hal keuangan yang secara langsung akan memberi dampak kepada mereka. Oleh karena itu, Anda sebagai orang tua harus berhati-hati dan sebisa mungkin menghindari kesalahan seputar keuangan agar Anda bisa mengajari anak-anak kebiasaan finansial yang cerdas.

Apa saja kesalahan yang sering dilakukan para orang tua? Berikut Investree punya 8 (delapan) poin penjabarannya untuk Anda. Mari simak!

Menunda ajari anak tentang uang

Menurut seorang investor, pengusaha, dan dermawan asal Amerika Serikat, Warren Buffett, kesalahan terbesar yang dilakukan para orang tua adalah menunggu hingga anak-anak mereka menginjak usia remaja untuk mengajarkan atau berbicara tentang uang. Padahal, para peneliti mencatat bahwa 80% pertumbuhan otak manusia terjadi saat mereka berumur 3 tahun. Sehingga anak-anak di usia tersebut sudah bisa memahami konsep dasar tentang uang saat diajarkan oleh kedua orang tuanya. Nanti, ketika umur mereka menginjak 7 tahun, konsep dasar tersebut akan berkembang lagi terkait dengan perilaku keuangan mereka di masa depan. Maksudnya, bila mereka sudah diajarkan soal konsep menabung di umur 3 atau 4 tahun, disaat mereka berumur 7 tahun, anak-anak sudah bisa melakukannya secara sadar dan mandiri.

Warren Buffett juga menambahkan, kebanyakan orang tua sudah paham tentang betapa pentingnya mengajarkan anak-anak tentang uang dan bagaimana cara mengelolanya dengan benar, namun mereka hanya sekadar mengetahui dan tidak mengambil tindakan. Menurut survei tahun 2018 dari T. Rowe Price, hanya ada 4% orang tua yang mengaku telah memulai berdiskusi tentang topik keuangan dengan anak-anaknya sebelum berusia 5 tahun. Harusnya angka tersebut bisa lebih besar agar anak-anak mendapat pembiasaan sedari kecil.

Menuruti semua keinginan anak

Memang sebagai orang tua, selalu ada perasaan tidak tega ketika anak menginginkan sesuatu. Karena perasaan tidak tega tersebutlah orang tua jadi selalu menuruti permintaan si anak. Atau orang tua malas berdebat dan malas mendengar anaknya menangis sehingga menuruti saja permintaan mereka. Padahal, adalah sebuah kesalahan bila orang tua memberikan segalanya untuk anak mereka, apalagi bila sampai harus mengorbankan dana pensiun. Orang tua harus bisa menyeimbangkan antara kebutuhan mereka sendiri dengan kebutuhan anak. Karena arti menyayangi bukan dengan memberikan semua yang mereka inginkan. Ketimbang hanya memberikan banyak barang, lebih baik menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak.

Anak harus diajarkan untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Ajak mereka berdiskusi tentang seberapa besar mereka menginginkan sesuatu dengan cara membuat daftar barang keinginan yang bisa mereka beli dengan anggaran yang telah ditentukan.

Memberi contoh yang buruk

Ketika Anda ingin mengajari anak untuk tidak boros dan tidak selalu menuruti keinginannya, Anda juga harus bisa memberi contoh untuk tidak membeli semua barang yang Anda inginkan. Bukankah pengajaran itu yang penting adalah konsistensi? Jadi Anda juga harus konsisten dengan apa yang Anda ajarkan atau ucapkan ke anak. Jangan sampai pelajaran untuk tidak melakukan, justru Anda sendiri yang melakukannya. Pasti anak jadi tidak akan mau mendengarkan Anda. Karena pengajaran yang paling mudah untuk diserap ilmunya adalah dengan memberi contoh terlebih dahulu.

Ini juga berlaku saat Anda mengajarkan tentang bahaya penggunaan kartu kredit karena ada bunga yang mengikutinya. Anda sebagai orang tua harus memberi contoh lebih dulu untuk bisa menggunakan kartu kredit secara bijak atau bahkan tidak memilikinya sama sekali. Sebab anak-anak pada akhirnya akan melakukan persis seperti apa yang orang tua mereka lakukan. Sehingga pastikan anak Anda tidak memiliki bencana keuangan saat mereka dewasa nanti.

Tidak melibatkan anak dalam hal keuangan

Ketika anak tidak menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan saat Anda akan membeli mobil atau merencanakan liburan, mereka akan melewatkan banyak pelajaran berharga yang bisa mereka pelajari tentang keuangan, terutama dalam hal perencanaan keuangan. Banyak kesempatan yang hilang untuk mengajarkan anak tentang nilai uang. Sebab, mereka belum sepenuhnya tahu berapa nilai suatu barang atau aktivitas yang mereka jalankan. Dengan melibatkan mereka dalam mengambil keputusan, merencanakan keuangan, hingga memberi pelajaran tentang nilai suatu barang, akan membuat mereka mudah mengerti tentang uang.

Jika tidak, takutnya di saat mereka dewasa dan harus memutuskan banyak hal, mereka tidak memiliki banyak pengetahuan yang mendukung sehingga kebingungan. Karena dengan melibatkan mereka dalam urusan keuangan seperti di atas, bisa mengajarkan anak dalam hal mengambil keputusan dan juga menambah pengetahuan.

Mengabaikan membuat anggaran

Kesalahan lainnya yang sering dilakukan para orang tua adalah tidak membuat anggaran untuk mengatur keuangan mereka. Manfaat dari memiliki anggaran adalah untuk membuat rencana pengeluaran dengan cermat. Anda bisa mengajak anak-anak Anda saat menyusun anggaran agar mereka bisa mengerti bahwa keuangan harus diatur dan mengetahui bagaimana cara mengaturnya. Dengan begitu, dapat menghindarkan dari kebiasaan menghambur-hamburkan uang tanpa rencana.

Kebanyakan orang tua yang tergoda untuk menghambur-hamburkan uang karena mereka tidak memiliki anggaran keuangan sehingga bingung dalam pembagian uang di setiap pengeluaran yang dilakukan. Saat menyusun anggaran keuangan, pastikan porsi untuk dana darurat, dana pensiun, dan investasi lainnya juga tidak dilupakan.

Merasa perlu ikut-ikutan keluarga lain

Terkadang orang tua merasa perlu mempertahankan gaya hidup tertentu agar anak-anaknya bisa merasa sepadan dengan teman-teman sebayanya. Sehingga, tidak jarang para orang tua suka memaksakan kondisi keuangan mereka hanya agar anak-anak mereka senang atau merasa lebih percaya diri. Seperti mengambil liburan mewah atau mengikutsertakan mereka kursus di tempat-tempat yang mahal atau membelikan mereka baju-baju bermerek yang padahal untuk mencapai hal tersebut orang tua harus bekerja sangat keras. Banyak ahli psikologi mengatakan, anak yang bahagia terbentuk dari para orang tua yang bahagia pula. Sehingga, kalau kehidupan gaya hidup seperti orang lain terlalu memberatkan Anda, lebih baik jangan dipaksa untuk mengikutinya daripada Anda tidak bahagia.

Membuat prioritas pengeluaran berdasarkan apa yang dilakukan orang tua lain pasti akan menjadi bumerang. Belum tentu juga hal tersebut yang benar-benar diinginkan oleh anak Anda. Pada akhirnya, hanya akan membuat pengeluaran jadi tidak terkontrol dan juga membuat keuangan Anda jadi terbebani.

Tidak memprioritaskan dana pensiun dan asuransi jiwa

Menabung untuk biaya kuliah anak-anak Anda sebelum menyisihkan uang dalam rekening pensiun Anda sendiri adalah kesalahan umum lainnya yang dilakukan para orang tua. Orang tua harus menabung untuk dana pensiun sebelum menabung untuk biaya kuliah anak. Sebab, tidak akan ada yang membiayai kebutuhan pensiun orang tua jika mereka belum cukup menabung. Sedangkan biaya kuliah masih bisa diperoleh melalui beasiswa, pinjaman uang sekolah, atau pekerjaan.

Hal ini juga berlaku pada asuransi jiwa yang mungkin sering dilupakan para orang tua. Kesalahan ini yang harus dihindari agar anak-anak juga tertarik untuk memilikinya saat mereka dewasa karena tahu akan manfaatnya. Asuransi jiwa berguna untuk menjaga kesejahteraan anak-anak Anda bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Asuransi jiwa akan mengganti pendapatan yang hilang, melunasi utang, dan mendanai pendidikan anak-anak ketika suatu musibah menimpa diri Anda sehingga tidak membebani mereka.

Terus mendukung anak tanpa batas

Kesalahan yang juga sering dilakukan para orang tua adalah tidak memiliki rencana kapan harus berhenti memberi dukungan keuangan kepada anak-anak mereka. Para orang tua cenderung terus membiarkan anak-anaknya bergantung pada mereka. Padahal, semakin cepat anak-anak dibiarkan melepas ketergantungan finansialnya dengan orang tua, semakin mudah mereka membangun kemandiriannya secara finansial. Kalau anak-anak terus dibiarkan bergantung dengan Anda, itu akan menguras keuangan Anda dan mencegah anak-anak untuk menjadi mandiri secara finansial.

Tidak ada patokan waktu yang benar dan salah kapan Anda harus berhenti memberi dukungan keuangan pada anak-anak Anda, tetapi bila bisa dilakukan lebih cepat saat mereka sudah mencapai usia dewasa, tentu akan lebih baik.

Itu dia 8 (delapan) kesalahan yang tanpa sadar sering dilakukan para orang tua dan harus dihindari supaya bisa mengajarkan anak-anak mereka kebiasaan finansial yang cerdas untuk kehidupan masa depan yang lebih baik. Setiap orang tua pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk dalam urusan keuangan karena hanya Anda sebagai orang tua yang bisa mengajarinya. Tidak ada kurikulum khusus di sekolah yang mengajarkan kebiasaan finansial yang cerdas. Oleh karena itu, kalau bisa diajarkan sedini mungkin, pasti akan jadi lebih baik.

Referensi:
Maryalene LaPonsie. 9 November 2018. 9 Money Mistakes Parents Make. USNews: http://bit.ly/2LZomJ8
Siti Nur Azzura. 1 Agustus 2019. Kesalahan Terbesar Orangtua dalam Mengajarkan Keuangan kepada Anak. Merdeka.com: http://bit.ly/2LYUTz8

Share this Post